Sejarah Penulisan AlQuran Pada Masa Rasulullah

Penulisan Suhuf-suhuf Al-Quran


Rasullullah SAW telah mengangkat para penulis wahyu Al-Qur'an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali bin Abi thalib ra, Muawiyah ra, ‘Ubai bin K'ab ra. dan Zaid bin Tsabit ra. Setiap ada ayat turun, beliau memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati.

Disamping itu sebagian sahabat juga menuliskan Al-Qur'an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh Rasulullah SAW. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang.

Zaid bin Sabit ra. berkata, "Kami menyusun al-Qur'an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang." Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis Qur'an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan dengan demikian, penulisan Qur'an ini semakin menambah hafalan mereka.
Suhuf Nabi-nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa Dalam AlQuran

Suhuf Nabi-nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa Dalam AlQuran

Kalimat "Suhuf Ibrahim dan Musa" dalam AlQuran  terdapat dalam penutup Surah Al A`la Ayat 19: Al A'laa 19 صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa Kalimat ini menjadi pertanyaan besar bagi sebahagian kecil manusia, dimanakah suhuf itu kini? Pertanyaan yang sederhana namun sedikit membingungkan bagi sebahagian ummat muslim. Namun, sebenarnya tidaklah sulit untuk menemukan dimana suhuf nabi-nabi dimulai dari suhuf Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa maupun nabi-nabi lainnya. Shuhuf (Arab:صحيفة tunggal: sahifa) berarti sepenggal kalimat yang ditulis, kalimat-kalimat tertulis tersebut, apabila dikumpulkan menjadi satu dan disusun dengan rapi maka dapat menjadi sebuah Mushaf (Arab:مصحف jamak: masahif) yang berarti kumpulan-kumpulan shuhuf. Seluruh intisari dari suhuf-suhuf para nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi Wa Sallam terdapat dengan sangat lengkap didalam AlQuran. Ajaran Ibrahim dan Musa dala...

Tidak Ada Hukum Rajam Dalam Al-Quran

Tidak Ada Hukum Rajam Dalam Al-Quran

Cara Penerapan Hukum Rajam Hukum rajam bagi pria dan wanita yang melakukan hubungan intim layaknya suami-istri tanpa ada ikatan pernikahan tidak terdapat dalam Al-Quran. Dahulunya terdapat hukuman rajam didalam Al-Quran dan Nabi Muhammad serta sahabat-sahabat Rasulullah juga menerapkan hukum ini dengan tegas sekali. Dalam beberapa riwayat tercatat bahwa seorang penduduk Madinah yang bernama Ma'iz, telah dijatuhi hukuman rajam atas pengakuannya sendiri bahwa ia berzina, begitu pula dua orang perempuan dari Bani Lahm dan Bani Hamid telah dijatuhi hukuman rajam, atas pengakuan keduanya bahwa dia berzina. Hukuman itu dilakukan di hadapan umum. Begitu juga terdapat 2 orang Yahudi yang mendapatkan hukuman rajam ini. Hukum rajam ialah hukum dera dengan lemparan batu sampai mati terhadap dua orang pelaku zina yang sudah atau pernah bersuami/ beristri  dan kedua pelaku telah melalui proses penyelidikan hukum yang mendalam serta akurat. Hukuman dilakukan dilapangan terbuka, dilak...

Allah Lebih Dulu Di Dunia Daripada Manusia

Allah Lebih Dulu Di Dunia Daripada Manusia

Anggapan tentang " Mana yang lebih awal di alam/ dunia ini, Allah atau dirimu " adalah sebuah kajian ketauhidan yang diungkapkan oleh penggiat ilmu tasawuf [tasawuf atau sufisme adalah suatu disiplin ilmu dalam agama Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mensucikan jiwa, akhlaq, hati serta fikiran baik zhahir maupun bathin guna mengapai ridha Allah. lihat defenisi sufi dan defenisi sufisme ] . Tasawwuf ini hanyalah teknik/ metode pendidikan guna mendapatkan pemahaman tentang "bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta". Orang-orang yang mempelajari ilmu ini disebut tarekat/ tirakat (dalam bahasa Jawa)/ thoriqoh; biasanya mendapatkan pelajaran dari seorang atau beberapa orang guru tarekat yang disebut mursyid melalui proses pendidikan yang disebut suluk.

Bintang Sebagai Alat Pelempar Setan, Benarkah?

Bintang Sebagai Alat Pelempar Setan, Benarkah?

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa salahsatu fungsi dari bintang-bintang yang ada dilangit adalah untuk mengusir setan yang mencuri dengar pembicaraan-pembicaraan yang terjadi dilangit. Allah SWT melontarkan panas api pada bintang dan diarahkan kepada setan-setan terkutuk itu. Banyak orang kafir dan (yang mengaku) atheis mentertawakan ayat ini. Dengan alasan-alasan yang mengandalkan logika sempit mereka berkata, "Mana mungkin..." atau mereka ucapkan, "Al-Quran tidak sejalan dengan sains tentang fungsi bintang ...", dan ungkapan-ungkapan lainnya yang melecehkan ayat-ayat Allah. Berdasarkan tafsir surah Al-Mulk yang terdapat dalam kitab tafsir Al-Quran Departemen Agama Republik Indonesia, diuraikan sebagai berikut:

Yahudi Membunuh Nabi-nabi - Tafsir Surah AlBaqarah Ayat 91

Yahudi Membunuh Nabi-nabi - Tafsir Surah AlBaqarah Ayat 91

Surat Al-Baqarah Ayat 91 وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاء اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Qur'an yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur'an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" Dr. M. Taqiud-Din & Dr. M. Khan: And when it is said to them (the Jews), "Believe in what Allah has sent down," they say, "We believe in what was sent down to us." And they disbelieve in that which came af...

Maryam Saudara Perempuan Harun - Tafsir Maryam Ayat 28

Maryam Saudara Perempuan Harun - Tafsir Maryam Ayat 28

Tafsir Surah Maryam Ayat 28 Tentang Maryam Saudara Perempuan Harun يااخت هارون ماكان ابوك امرأ سوء وماكانت امك بغي Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina. Kemudian mereka menambah celaan dan cemoohan serta tuduhan kepada Maryam seraya berkata, "Hai saudara perempuan Harun! Ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang wanita tuna susila. Bagaimana kamu sampai mendapatkan anak ini. Kepada beliau dipanggil dengan sebutan "Saudara perempuan Harun", oleh karena telah menjadi kebiasaan Bani Israel untuk menyebutkan nama-nama para Nabi dan orang-orang saleh sebelumnya.

Copyright © MUSLIM BLOG