Allah Menciptakan Bencana, Derita dan Kematian

Benarkah Allah Maha Kejam dan Tidak Berbelas Kasih?

Allah adalah pencipta alam semesta, makhluk dan apa saja yang terdapat didunia fana ini. Penciptaan alam raya sesuai kehendak, rencana dan tujuan Allah S.W.T, hal ini sesuai dengan firmanNya dalam Surah Al Baqarah ayat 29 dan 117.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Baqarah:29]

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia.[Al-Baqarah:117]

Demikianlah penciptaan seluruh apa yang ada dilangit, dibumi, didalam dan diantara keduanya atas kehendahNya. Dia lah yang Maha Haq, berkehendak terhadap ciptaannya tanpa intervensi dan ketergantuangan serta pengaruh hal lain.
Kisah Umar dan Wabah Tha'un Amawas

Kisah Umar dan Wabah Tha'un Amawas

Kisah Kedatangan Umar RA. Ke Syam dan Wabah Tha'un Amawas Tahun 17 H. Ibnu Jarir berkata, Pada tahun ini (17 Hijriyah) Umar bin al-Khaththab RA. datang ke wilayah Syam untuk berperang. Ketika ia sampai di Sargh [1] - menurut pendapat Ibnu Ishaq, sementara menurut Saif bin Umar ketika sampai di Jabiyah - para pemimpin prajurit memberitakan kepadanya bahwa Syam terserang wabah penyakit, maka Umar RA. segera mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah. Mereka menyelisihi pendapat Umar RA. Ada yang berkata, "Jika engkau telah datang untuk berperang maka mengapa harus kembali?" Ada juga yang berkata, "Menurut kami engkau harus terus berjalan mem-bawa para sahabat Rasulullah SAW. ke daerah yang terserang wabah ini." Ketika dikatakan bahwa Umar RA. menginstrukskian seluruh tentara kaum muslimin untuk kembali esok hari, maka Abu Ubaidah berkata kepada Umar RA.:

Defenisi Khusyu' Menurut Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 45 - 46

Defenisi Khusyu' Menurut Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 45 - 46

Pengertian Shalat Yang Khusyu' Khusyu' memiliki defenisi dan pengertian yang cukup luas, berdasarkan pendapat beberapa ilmuan Islam. Namun demikian, secara spesifik, kata khusyu' memiliki defenisi baku yang di cantumkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an; yaitu surah Al-Baqarah ayat 45 dan 46. Al Baqarah 45 وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', Al Baqarah 46 الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. Jelas sekali diuraikan dalam ayat-ayat diatas bahwa khusyu' adalah orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui dan akan kembali kepada Allah .

Sejarah Penulisan AlQuran Pada Masa Rasulullah

Sejarah Penulisan AlQuran Pada Masa Rasulullah

Penulisan Suhuf-suhuf Al-Quran Rasullullah SAW telah mengangkat para penulis wahyu Al-Qur'an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali bin Abi thalib ra, Muawiyah ra, ‘Ubai bin K'ab ra. dan Zaid bin Tsabit ra. Setiap ada ayat turun, beliau memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati. Disamping itu sebagian sahabat juga menuliskan Al-Qur'an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh Rasulullah SAW. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit ra. berkata, "Kami menyusun al-Qur'an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang." Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis Qur'an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan dengan demikian, penulisan Q...

Suhuf Nabi-nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa Dalam AlQuran

Suhuf Nabi-nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa Dalam AlQuran

Kalimat "Suhuf Ibrahim dan Musa" dalam AlQuran  terdapat dalam penutup Surah Al A`la Ayat 19: Al A'laa 19 صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa Kalimat ini menjadi pertanyaan besar bagi sebahagian kecil manusia, dimanakah suhuf itu kini? Pertanyaan yang sederhana namun sedikit membingungkan bagi sebahagian ummat muslim. Namun, sebenarnya tidaklah sulit untuk menemukan dimana suhuf nabi-nabi dimulai dari suhuf Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa maupun nabi-nabi lainnya. Shuhuf (Arab:صحيفة tunggal: sahifa) berarti sepenggal kalimat yang ditulis, kalimat-kalimat tertulis tersebut, apabila dikumpulkan menjadi satu dan disusun dengan rapi maka dapat menjadi sebuah Mushaf (Arab:مصحف jamak: masahif) yang berarti kumpulan-kumpulan shuhuf. Seluruh intisari dari suhuf-suhuf para nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi Wa Sallam terdapat dengan sangat lengkap didalam AlQuran. Ajaran Ibrahim dan Musa dala...

Tidak Ada Hukum Rajam Dalam Al-Quran

Tidak Ada Hukum Rajam Dalam Al-Quran

Cara Penerapan Hukum Rajam Hukum rajam bagi pria dan wanita yang melakukan hubungan intim layaknya suami-istri tanpa ada ikatan pernikahan tidak terdapat dalam Al-Quran. Dahulunya terdapat hukuman rajam didalam Al-Quran dan Nabi Muhammad serta sahabat-sahabat Rasulullah juga menerapkan hukum ini dengan tegas sekali. Dalam beberapa riwayat tercatat bahwa seorang penduduk Madinah yang bernama Ma'iz, telah dijatuhi hukuman rajam atas pengakuannya sendiri bahwa ia berzina, begitu pula dua orang perempuan dari Bani Lahm dan Bani Hamid telah dijatuhi hukuman rajam, atas pengakuan keduanya bahwa dia berzina. Hukuman itu dilakukan di hadapan umum. Begitu juga terdapat 2 orang Yahudi yang mendapatkan hukuman rajam ini. Hukum rajam ialah hukum dera dengan lemparan batu sampai mati terhadap dua orang pelaku zina yang sudah atau pernah bersuami/ beristri  dan kedua pelaku telah melalui proses penyelidikan hukum yang mendalam serta akurat. Hukuman dilakukan dilapangan terbuka, dilak...

Allah Lebih Dulu Di Dunia Daripada Manusia

Allah Lebih Dulu Di Dunia Daripada Manusia

Anggapan tentang " Mana yang lebih awal di alam/ dunia ini, Allah atau dirimu " adalah sebuah kajian ketauhidan yang diungkapkan oleh penggiat ilmu tasawuf [tasawuf atau sufisme adalah suatu disiplin ilmu dalam agama Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mensucikan jiwa, akhlaq, hati serta fikiran baik zhahir maupun bathin guna mengapai ridha Allah. lihat defenisi sufi dan defenisi sufisme ] . Tasawwuf ini hanyalah teknik/ metode pendidikan guna mendapatkan pemahaman tentang "bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta". Orang-orang yang mempelajari ilmu ini disebut tarekat/ tirakat (dalam bahasa Jawa)/ thoriqoh; biasanya mendapatkan pelajaran dari seorang atau beberapa orang guru tarekat yang disebut mursyid melalui proses pendidikan yang disebut suluk.

Copyright © MUSLIM BLOG